Minggu, 03 April 2011

Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Tolitoli

Laju Pertumbuhan Penduduk Tolitoli pertahun selama sepuluh tahun terakhir yakni dari tahun 2000 - 2010 sebesar 1,26 persen. Laju pertumbuhan penduduk Kecamatan Basidondo adalah yang tertinggi dibandingkan kecamatan lain di Kabupaten Tolitoli yakni sebesar 1,99 persen, sedangkan yang terendah di Kecamatan Lampasio yakni sebesar 0,44 Persen. Kecamatan Galang walaupun menempati urutan kedua dari jumlah penduduk di Kabupaten Tolitoli namun dari sisi laju pertumbuhan penduduk adalah lebih rendah dibanding dengan rata - rata kecamatan lain, yakni hanya sebesar 0,91 persen. Kecamatan Baolan walaupun jumlah penduduknya yang paling banyak tapi laju pertumbuhannya masih dibawah Kecamatan Basidondo (1,99 Persen) dan Kecamatan Ogodeide (1,77 Persen) yakni sebesar 1,71 persen.

 Jumlah Penduduk Tolitoli Menurut Kecamatan Dan Jenis Kelamin


Sumber : BPS Kab. Tolitoli - Hasil Sensus Penduduk 2010 Kabupaten Tolitoli

Minggu, 20 Maret 2011

BUNGA BANGKAI




















Beberapa waktu yang lalu warga disekitar Perumnas Tolitoli mendapati jenis flora langka yang tumbuh di salah satu pekarangan warga. Bunga itu adalah Bunga Bangkai atau nama latinnya Amorphophallus. Menurut salah satu warga yang bernama Nasril Musi mengatakan bahwa bunga tersebut sering mengeluarkan aroma tak sedap hingga berjarak beberapa meter dari asal bunga. Berikut Dokumentasi visual yang berhasil kami ambil dari lokasi dimana bunga tersebut tumbuh.

Kamis, 24 September 2009

Sabtu, 24 Januari 2009

Gunung Galang

Gunung Galang dengan ketinggian 2.253 mdpl ternyata banyak menyimpan misteri dan pesona keindahan alam yang hingga kini belum terkuak seluruhnya. Baik jika dilihat dari sisi history, budaya dan keanekaragaman flora dan fauna
yang terdapat disana. Beberapa diantaranya adalah ditemuinya species anggrek (Kantung Semar), Hutan lumut pada puncaknya, Paal yang berada juga tepat pada puncak gunung tersebutdan lain sebagainya.
Pukul 22.00 pada puncak gunung suhu berada pada posisi 5 derajat celcius, pada siang harinya sekitar pukul 11.30 wita di ketinggian 1.300 mdpl atau pada daerah puncak damar suhu sekitar 11 derajat celcius. Ini sebuah gambaran bahwa daerah gunung galang merupakan daerah yang cukup dingin atau hutan basah yang ditunjukkan pula dengan keberadaan istana lumut yang menyelimuti puncak tersebut.

BALE MASIGI

Bale Masigi ini adalah sebuah bangunan yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan kesultanan Tolitoli yang desainya terinspirasi dari nilai-nilai Islam.
Bentuk atapnya yang bersusun lima terilhami dari bentuk Masjid yang ada di kesultanan Ternate, yang melambangkan Rukun Islam.
Lantai Bangunan terdiri dari 5 Susun yang memiliki fungsi sebagi berikut :

- Lantai Dasar adalah tempat para abdi kerajaan
- Lantai kedua tempat raja memerintah (singgasana)
- Lantai Ketiga tempat peristrahatan putra-putra raja
- Lantai Keempat tempat peristrahatan putri-putri raja
- Lantai Kelima tempat dokumen dan pusaka kerajaan (arsip)
Tangga yang di gunakan adalah tangga diapala yang dalam bahasa Tolitoli dimana tangga tersebut ditambah ornament kepala buaya yang menggambarkan kekuasaan, yang memilki arti lain bahwa masyarakat tolitoli adalah masyarakat yang memiliki sifat sabar tetapi dapat marah bila kekuasaannya diganggu.
Tinggi tiang rumah dari permukaan tanah sampai lantai bawah di ambil dari ukuran prajurit diatas kuda sambil memegang tombak ,atau ibu-ibu yang sedang menumbuk padi

Selasa, 20 Januari 2009

AIR LAUT MENGGENANGI PLAZA TOLITOLI

Baru - baru ini telah terjadi sebuah peristiwa yang baru kali ini dialami oleh sebagian besar masyarakat Tolitoli.
Peristiwa tersebut terjadi dalam 2 (Dua) Hari berturut - turut, yang diawali dengan naiknya permukaan air pasang yang tidak biasanya atau mungkin yang biasa kita dengar dengan istilah rob. Tepatnya peristiwa tersebut terjadi pada hari minggu tanggal 11 Januari 2009.
Air pasang tersebut sempat menggenangi pusat perbelanjaan terbesar di kota tolitoli yang kebetulan berada di sekitar pantai. Saksi mata
yang sempat ditemui mengatakan "Air pasang tersebut sama sekali tidak diperkirakan bakal setinggi hari itu, bahkan lebih parah lagi karena bertetapan dengan angin laut yang cukup kencang sehingga terjangannya sangat kuat disekitar bibir pantai tolitoli" demikian kata Ongges yang kebetulan adalah merupakan salah seorang aktivis Univ. Madako yang juga selama ini sangat sering berada disekitar pantai karena sedang mengadakan penelitian dalam rangka studi akhirnya.
Lebih lanjut dikatakan oleh sebagian masyarakat ini sebenarnya merupakan fenomena alam yang tidak perlu kita takutkan, karena pada hakekatnya wilayah kota tolitoli dulunya adalah merupakan daerah rawa yang sudah biasa digenangi air laut.
"Tapi kan itu dulu" sahut salah seorang warga yang memang sudah sejak lama mendiami kota Tolitoli. Peristiwa seperti diatas baru kali ini terjadi dalam beberapa dekade terakhir.
Atau...apakah ini dipengaruhi karena mulai mencairnya es dikutub yang notabene ikut mempengaruhi tinggi permukaan air laut???
Apakah ini yang disebut Global Warming Effect???

Sabtu, 17 Januari 2009

Hima Umada Gelar FK RAYON X

Mahasiswa Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Madako Tolitoli mengadakan Kegiatan Forum Komunikasi Rayon X (Sulteng) dengan Sub Kegiatan yaitu : Forum Komunikasi, Pameran Arsitektur, Klinik Arsitektur Dan Bursa Arsitektur.
Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 12 - 17 Januari di hadiri oleh Institusi yang tergabung dalam Rayon X FK-MAI.
Lebih Lanjut Silahkan Klik disini.....

Minggu, 30 November 2008

Toli-toli



The Regency of Buol Toli-toli has a capital named Toli-toli, a small town in the northern part of central Sulawesi. Toli-toli is a beach city lying in front of Toli-toli Bay. Available here are an airport and a seaport.

Lutungan Island



Lutungan Island lies in the north of Toli-toli. Found here is the grave of king Toli-toli which deemed sacred by the local people. This is a maritime recreational island in pleasant atmosphere. The environment and the white sandy beach are really amazing. The island lies one mile from Toli-toli, reachable by motorboat.

Sematang Island

Sematang Island is about 25 miles from Toli-toli, in the middle of a calm sea. Its fine beach is suitable for recreation.

Santigi Island

Santigi Island is suitable for water sports. Traditional sailboats can be hired. The beach lies 59 kilometers away from Toli-toli.

Salumpaga

Another equally attractive place is Salumpaga. here are the remnants of an old Dutch fort. From Toli-toli it distance 67 kilometers.

Bale Masigi

Nalu

Bale Masigi looks like a mosque, but is actually the former royal palace of Toli-toli. The building was constructed in 1800 and can be found in Nalu, about two kilometers from Toli-toli.

Dadakitan

Dadakitan is a camping ground six hectares large, with a capacity to accommodate about 3,000. The distance from Toli-toli is 15 kilometers. The scenery in the surroundings is very beautiful. Clear water and firewood are no problem.


Sumber : http://www.goarchi.com

Schistosomiasis and Other Human Parasitoses of Lake Lindu in Central Sulawesi (Celebes), Indonesia

M. D. Clarke, W. P. Carney, J. H. Cross, P. Hadidjaja, S. Oemijati AND A. Joesoef
U. S. Naval Medical Research Unit No. 2, Taipei, Taiwan and Jakarta, Indonesia, Department of Parasitology, Faculty of Medicine, University of Indonesia, and Indonesian Ministry of Health, Jakarta, Indonesia
The isolated Lake Lindu Valley of Central Sulawesi is the only reported Indonesian focus of oriental schistosomiasis. In April 1972 a parasitological survey involving over 1,400 people was conducted in the valley's four villages. Schistosoma japonicum infections were detected in 37.9% of all Lindu people by direct and formalin-ether concentration examinations of stools: 57.1% in Anca, 42.4% in Tomado, 30.0% in Langko, and 11.7% in Puroo. Peak prevalences of schistosomiasis were reached in the second decade of life and remained high thereafter among both male and female populations. Prevalences of other helminthic parasites are reported as follows: Hymenolepsis diminuta, <0.1%;>Strongyloides stercoralis, 0.2%; Enterobius vermicularis, 0.8%; Trichuris trichiura, 8.8%; Ascaris lumbricoides, 15.2%; and hookworm (Necator americanus), 69.6%. No Echinostoma lindoense infection was detected. Intestinal protozoa including Entamoeba coli, Giardia lamblia, Endolimax nana, Entamoeba histolytica, Iodamoeba butschlii, Entamoeba hartmanni, and Chilomastix mesnili were also encountered. In blood smears collected from 1,348 people, Brugia malayi microfilariae were detected in 5.4% of the population, and Plasmodium vivax and Plasmodium falciparum in 2.5%. Filariasis was more frequent in older age groups, while most malaria infections were found in Lindu residents 10 years old or younger.
Accepted for publication November 10, 1973.


http://www.ajtmh.org/